PENDEKATAN, METODE DAN TEKNIK-TEKNIK YANG DIGUNAKAN DALAM PERENCANAAN PENDIDIKAN
PENDEKATAN, METODE DAN TEKNIK-TEKNIK YANG DIGUNAKAN DALAM PERENCANAAN
PENDIDIKAN
Abstrak:
Perencanaan
dalam dunia pendidikan, terutama dalam sebuah lembaga pendidikan, memang
sangatlah penting, sebab perencanaan tersebut kedepannya akan berperan vital
sebagai petunjuk dalam gerak langkah lembaga tersebut. Namun demikian, model
perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan tentunya akan sangat berbeda dengan
perencanaan dalam sebuah perusahaan. Perusahaan yang notabene berorientasi
profit, tentu saja ‘memproses’ benda mati, baik berupa barang maupun jasa. Di
lain pihak, lembaga pendidikan, atau dapat disebut sebagai sekolah, ‘memproses’
manusia dengan segala sifat-sifat kemanusiaannya yaitu hidup dan berkembang. Perencanaan dalam sebuah lembaga
pendidikan, tentunya tidak boleh melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri,
karena tujuan itulah yang nantinya akan menjadi titik tolak penyusunan sebuah kerangka
rencana. Dan agar sebuah perencanaan dalam lembaga pendidikan tersebut tidak
melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, harus digunakan sebuah
pendekatan, metode, dan teknik-teknik perencanaan yang sesuai dan tepat.
Kata Kunci: Pendekatan, Metode,
Teknik
Abstract:
Planning
in the world of education, especially in an educational institution, is very
important, because the planning in the future will play a vital role as a guide
in the movement step of the institution. However, the planning model in an
educational institution will certainly be very different from planning in a
company. Companies that in fact profit-oriented, of course 'processing'
inanimate goods, either in the form of goods or services. On the other hand, an
educational institution, or it may be called a school, 'processes' a human
being with all its humanitarian traits of life and development. Planning in an
educational institution, of course, should not deviate from the goal of
education itself, because that goal that will be the starting point of
preparation of a framework of the plan. And for a planning within the
educational institution not to deviate from the objectives of the education
itself, appropriate and appropriate approaches, methods and techniques should
be used.
Keywords: Approach, Method, Technique
Pendahuluan
Perencanaan
(planning) merupakan fungsi awal dari serangkaian aktivitas manajemen dalam
mencapai tujuan secara efektif dan efisien, sebelum fungsi berikutnya yaitu
organizing, actuating, dan controlling. Menurut anderson dalam syafaruddin,
perencanaan adalah pandangan masa depan dan menciptakan kerangka kerja untuk
mengarahkan tindakan seseorang di masa depan.
Perencanaan
pendidikan pada hakikatnya adalah proses pemilihan yang sistematis, analisis
yang rasional mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa
pelaksananya dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan dalam rangka meningkatkan
mutu pendidikan lebih efektif dan efisien, sehingga proses pendidikan itu dapat
memenuhi tuntutan atau kebutuhan masyarakat. Dengan demikian seperti dikemukakan oleh burhanuddin,
maka terdapat empat aspek yang berkaitan dengan perencanaan pendidikan tersebut
yaitu berhubungan dengan masa depan, adanya seperangkat kegiatan, adanya proses
yang sistematis, dan adanya tujuan.
Pembahasan
A.
Pendekatan dalam Perencanaan Pendidikan
Menurut para ahli, ada beragam pendekatan
perencanaan pendidikan, yaitu: pendekatan kebutuhan sosial (social demand
approach); pendekatan ketenagakerjaan (manpower approach); pendekatan
keefektifan biaya (cost effectiveness approach), dan pendekatan
integratif. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat
keempat pendekatan perencanan pendidikan tersebut.
1.
Pendekatan Kebutuhan Sosial (social
demand approach)
Perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan kebutuhan sosial, oleh
para ahli disebut pendekatan yang bersifat tradisional, karena fokus atau
tujuan yang hendak dicapai dalam pendekatan kebutuhan sosial ini lebih menekankan
pada: (1) tercapainya pemenuhan kebutuhan atau tuntutan seluruh individu
terhadap layanan pendidikan dasar; (2) pemberian layanan pembelajaran untuk
membebaskan populasi usia sekolah dari tuna aksara (buta huruf); dan (3)
pemberian layanan pendidikan untuk membebaskan rakyat dari rasa ketakutan dari
penjajahan, dari kebodohan dan dari kemiskinan. Oleh karena itu pendekatan
kebutuhan sosial ini biasanya dilaksanakan pada negara-negara yang baru meraih
kemerdekaan dari penjajahan, dengan kondisi masyarakat pribumi yang terbelakang
pendidikannya dan kondisi sosial ekonominya.
Apabila
pendekatan kebutuhan sosial ini dipakai, maka ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan atau diperhatikan oleh penyusun perencanaan dalam merancang
perencanaan pendidikan, antara lain: (1) melakukan analisis tentang pertumbuhan
penduduknya; (2) melakukan analisis tentang tingkat partisipasi warga
masyarakatnya dalam pelaksanaan pendidikan, misalnya melakukan analisis
persentase penduduk yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan, yang dapat
memberikan kontribusi dalam peningkatan layanan pendidikan di setiap satuan
pendidikan; (3) melakukan analisis tentang dinamika atau gerak (mobilitas)
peserta didik dari sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi, misalnya
kenaikan kelas, kelulusan, dan dropout; (4) melakukan analisis tentang
minat atau keinginan warga masyarakat tentang jenis layanan pendidikan di
sekolah; (5) melakukan analisis tentang tenaga pendidik dan kependidikan yang
dibutuhkan, dan dapat difungsikan secara maksimal dalam proses layanan
pendidikan; dan (6) melakukan analisis tentang keterkaitan antara output
satuan pendidikan dengan tuntutan masyarakat atau kebutuhan sosial di
masyarakat (Sa’ud, S. dan Makmun A,S. 2007; Usman, H. 2008).
Ada beberapa
kelebihan dan kekurangan penggunaan pendekatan kebutuhan sosial dalam
perencanaan pendidikan. Diantara sisi positif pendekatan ini antara lain: (1)
pendekatan ini lebih cocok untuk diterapkan pada masyarakat atau negara
yang baru merdeka dengan kondisi kebutuhan sosial, khususnya layanan pendidikan
masih sangat rendah atau masih banyak yang buta huruf; dan (2) pendekatan ini
akan lebih cepat dalam memberikan pemerataan layanan pendidikan dasar yang
dibutuhkan pada warga masyarakat, karena keterbelakangan di bidang pendidikan
akibat penjajahan, sehingga layanan pendidikan yang diberikan langsung
bersentuhan dengan kebutuhan sosial yang mendasar yang dirasakan oleh
masyarakat. Sedangkan sisi kelemahan pendekatan
kebutuhan sosial ini antara lain: (1) pendekatan ini cederung hanya untuk
menjawab persoalan yang dibutuhkan masyarakat pada saat itu, yaitu pemenuhan
kebutuhan atau tuntutan layanan pendidikan dasar sebesar-besarnya, sehingga
mengabaikan pertimbangan efisiensi pembiayaan pendidikan; (2) pendekatan ini
lebih menekankan pada aspek kuantitas (jumlah yang terlayani
sebanyak-banyaknya), sehingga kurang memperhatikan kualitas dan efektivitas
pendidikan, oleh karena itu pendekatan ini terkesan lebih boros; (3) pendekatan
ini mengabaikan ciri-ciri dan pola kebutuhan man power yang diperlukan
di sektor kehidupan ekonomi, dengan demikian hasil atau output
pendidikan cenderung kurang bisa memenuhi tuntutan kebutuhan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi terkini; dan (4) pendekatan ini lebih menekankan pada
aspek pemerataan pendidikan (dimensi kuantitatif) dan kurang mementingkan aspek
kualitatif. Disamping itu pendekatan ini kurang memberikan jawaban yang
komprehensif dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan, karena lebih menekankan
pada aspek pemenuhan kebutuhan sosial, sementara aspek atau bidang kehidupan
yang lain kurang diperhatikan.
2.
Pendekatan Ketenagakerjaan (manpower approach)
Yang dimaksud dengan pendekatan ketenagakerjaan (manpower
approach) menurut A. W. Guruge
(1972): “Gearing on educational eforts to the fulfiment of national man
power requirement.” Jadi menurut Guruge pendekatan ini bertujuan
mengarahkan kegiatan pendidikan kepada usaha untuk memenuhi kebutuhan nasional
akan tenaga kerja (man power atau person power).[3]
Perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan ini lebih mengutamakan
keterkaitan antara output (lulusan) layanan pendidikan di setiap satuan
pendidikan dengan tuntutan atau keterserapan akan kebutuhan tenaga kerja di
masyarakat. Apabila pendekatan ini dipakai oleh para penyusun perencanaan
pendidikan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain: (1)
melakukan kajian atau analisis tentang beragam kebutuhan yang diperlukan oleh
dunia kerja yang ada di masyarakat secermat mungkin; (2) melakukan kajian atau
analisis tentang beragam bekal pengetahuan dan ketrampilan apa yang perlu
dimiliki oleh peserta didik agar mereka mampu menyesuaikan diri secara cepat (adaptif)
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi di dunia
kerja; dan (3) mengkaji atau menganalisis tentang sistem layanan pendidikan
yang terbaik dan mampu memberikan bekal yang cukup bagi siswa untuk terjun di
dunia kerja, oleh karena itu perlu dilakukan analisis peluang kerja dan
menjalin kerjasama antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri (link
and match).
Ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari perencanaan pendidikan yang
menggunakan pendekatan ketenagakerjaan, yaitu: Pertama, beberapa
kebaikan dari pendekatan perencanaan pendidikan ketenagakerjaan, antara lain:
(1) proses pembelajaran atau layanan pendidikan di satuan pendidikan mempunyai
aspek korelasional yang tinggi dengan tuntutan dunia kerja yang dibutuhkan
masyarakat; dan (2) pendekatan ini mengharuskan adanya keterjalinan yang erat
antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri, hal ini tentu sangat
positif untuk meminimalisir terjadinya kesenjangan antara dunia pendidikan
dengan dunia industri-usaha.
Kedua, beberapa kelemahan dari
pendekatan perencanaan pendidikan ketenagakerjaan, antara lain: (1) mempunyai
peranan yang terbatas terhadap perencanaan pendidikan, karena pendekatan ini
telah mengabaikan peran sekolah menengah umum, dan lebih mengutamakan sekolah
menengah kejuruan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja. Dalam realitasnya masih
banyak lulusan sekolah menengah kejuruan yang menganggur (output-nya
tidak terserap di dunia kerja); (2) perencanaan ini lebih menggunakan
orientasi, klasifikasi, dan rasio antara permintaan dan persediaan; dan (3)
tujuan utamanya untuk memenuhi tuntutan dunia kerja, sedangkan disisi lain
tuntutan dunia kerja selalu berubah-ubah (bersifat dinamik) begitu cepat,
sehingga lembaga pendidikan kejuruan sering kurang mampu mengantisipasinya
dengan baik (Vebriarto. 1982; Abin, S. Makmun, dkk. 2001; Usman, H.
2008).
3.
Pendekatan
Keefektifan Biaya (cost effectiveness approach)
Pendekatan ini
berorientasi pada konsep Investment in human capital (investasi pada
sumber daya manusia).[4] Pendekatan
ini sering disebut pendekatan untung rugi. Diantara ciri-ciri pendekatan ini
antara lain: (1) pendidikan memerlukan biaya investasi yang besar, oleh karena
itu perencanaan pendidikan yang disusun harus mempertimbangkan aspek keuntungan
ekonomis; (2) pendekatan ini didasarkan pada asumsi, bahwa: (a) kualitas
layanan pendidikan akan menghasilkan output yang baik dan secara
langsung akan memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi masyarakat; (b)
sumbangan seseorang terhadap pendapatan nasional adalah sebanding dengan
tingkat pendidikannya; (c) perbedaan pendapatan seseorang di masyarakat,
ditentukan oleh kualitas pendidikan bukan ditentukan oleh latar belakang
sosialnya; (3) perencanaan pendidikan harus betul-betul diorientasikan pada
upaya meningkatkan kualitas SDM (penguasaan Iptek), dan dengan tersedianya
kualitas SDM, maka diharapkan income masyarakat akan meningkat; dan (4)
program pendidikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi akan menempati
prioritas pembiayaan yang besar.
Ada beberapa
kelebihan dan kelemahan dari perencanaan pendidikan dengan pendekatan keefektifan
biaya, yaitu. Pertama, kelebihan pendekatan keefektifan biaya, antara
lain: (a) perencanaan pendidikan yang disusun akan mempunyai aspek fungsional
dan keuntungan ekonomis, sehingga bentuk-bentuk layanan pendidikan yang
dianggap kurang produktif bisa ditiadakan melalui pendekatan efisiensi
investasi; dan (b) pendekatan ini
selalu memilih alternaif yang menghasilkan keuntungan lebih banyak daripada
biaya yang dikeluarkan.
Kedua, kelemahan
pendekatan keefektifan biaya, antara lain: (a) akan mengalami kesulitan dalam
menentukan secara pasti biaya dan keuntungan (cost and benefit) dari
layanan pendidikan, terlebih apabila digunakan mengukur keuntungan untuk
periode atau masa yang akan datang; (b) sangat sulit untuk mengukur secara
pasti atau menghitung keuntungan (benefit) yang dihasilkan oleh
seseorang dalam lapangan pekerjaan yang dikaitkan dengan layanan pendidikan
sebelumnya; (c) pendekatan ini mengabaikan hubungan antara penghasilan
seseorang dengan faktor internal individu (misalnya, motivasi, disiplin nurani,
kelas sosial, orientasi hidup individu, dan sejenisnya), dan hanya melihat
hubungan antara tingkat pendidikan dengan penghasilan; (d) perbedaan pendapatan
seseorang sebenarnya tidak semata-mata menunjukkan kemampuan produktivitas
individual, tetapi ada faktor lain yang ikut menentukan yaitu faktor konvensi
sosial atau banyak dipengaruhi dari kerja kelompok; dan (e) keuntungan dari
pendidikan pada dasarnya tidak hanya diukur berupa keuntungan finansial
(material), tetapi juga dapat dilihat dari keuntungan sosial-budaya (Abin, S.
Makmun, dkk. 2001; Sa’ud, S. dan Makmun A,S. 2007).
4.
Pendekatan Integratif
Perencanaan
pendidikan yang menggunakan pendekatan integrasi (terpadu) dianggap sebagai
pendekatan yang lebih lengkap dan relatif lebih baik daripada ketiga pendekatan
di atas. Pendekatan ini sering disebut dengan ‘pendekatan sistemik atau
pendekatan sinergik’. Diantara ciri atau karakteristik pendekatan integratif
adalah, bahwa perencanaan pendidikan yang disusun berdasarkan pada: (1)
keterpaduan orientasi dan kepentingan terhadap pengembangan individu dan
pengembangan sosial (kelompok); (2) keterpaduan antara pemenuhan kebutuhan
ketenagakerjaan (bersifat pragmatis) dan juga mempersiapkan pengembangan
kualitas akademik (bersifat idealis) untuk mempersiapkan studi lanjut; (3)
keterpaduan antara pertimbangan ekonomis (untung rugi), dan pertimbangan
layanan sosial-budaya dalam rangka memberikan kontribusi terhadap terwujudnya
integrasi sosial-budaya; (4) keterpaduan pemberdayaan terhadap sumber daya
lembaga, baik sumber daya internal maupun sumber daya eksternal; (5) konsep
bahwa seluruh unsur yang terlibat dalam proses layanan pendidikan (pelaksanaan
program) di setiap satuan pendidikan merupakan ‘suatu sistem’;
dan (6) konsep bahwa kontrol dan evaluasi pelaksanaan program (perencanaan
pendidikan) melibatkan semua pihak yang berkaitan dengan proses layanan kualitas
pendidikan, dengan tetap berada dalam komando pimpinan atau kepala satuan
pendidikan. Sedangkan pihak-pihak yang dapat terlibat dalam proses evaluasi
pelaksanaan perencanaan pendidikan di setiap satuan pendidikan adalah: (a)
Kepala sekolah; (b) Guru; (c) Siswa; (d) Komite Sekolah, (e) Pengawas sekolah;
dan (f) Dinas pendidikan (Vebriarto. 1982; Soenarya, E. 2000; Depdiknas, 2001,
2006).
Sedangkan kelebihan dan kelemahan pendekatan perencanaan pendidikan
integrasi atau terpadu adalah: Pertama, kelebihan pendekatan terpadu
antara lain: (1) semua sumber daya (internal-eksternal) yang dimiliki dalam
proses pengembangan pendidikan akan terberdayakan secara baik dan seimbang; (2)
dalam proses pelaksanaan program atau perencanaan pendidikan memberikan peluang
secara maksimal kepada setiap warga sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan,
siswa dan komite sekolah (tokoh dan orang tua wali siswa) untuk berkontribusi
secara positif sesuai dengan status dan peran masing-masing; (3) peluang untuk
pencapaian tujuan pendidikan yang telah dirumuskan akan lebih efektif, karena
dalam perencanaan terpadu memberikan porsi yang cukup besar bagi pemberdayakan
semua potensi yang dimiliki secara kelembagaan, dan menuntut partisipasi aktif
dari semua warga sekolah; (4) perencanaan pendidikan yang terpadu akan mampu
menghadapi perubahan atau dinamika kehidupan sosial, ekonomi dan budaya atau
tingkat kompetisi yang begitu tinggi di semua bidang kehidupan di era
globalisasi; (5) pelaksanaan pendekatan perencanaan pendidikan terpadu secara
baik akan mampu mensosialisasi dan menginternalisasi setiap warga sekolah,
untuk membangun sikap mental dan pola perilaku yang integral atau
multidimensional atau komprehensif dalam memahami dan melaksanakan setiap
agenda kehidupan di masyarakat; dan (6) output dari proses layanan
pendidikan pada peserta didik akan lebih menampilkan potret hasil pendidikan
yang lengkap, baik kualitas akademiknya, kualitas kepribadiannya dan kualitas
ketrampilannya.
Kedua, kelemahan
pendekatan terpadu antara lain: (1) pendekatan ini memerlukan ketersediaan
kualitas sumber daya manusia (pendidik dan tenaga kependidikan), khususnya
kualitas pengetahuan, mentalitas atau kepribadiannya, dan spiritualnya. Dalam
realitasnya menurut data Depdiknas 2006-2007, khususnya tentang kualitas tenaga
pendidik (guru) secara makro (Nasional) dari jenjang pendidikan paling dasar
sampai menengah atas yang betul-betul telah memenuhi standar kualitas guru yang
professional masih kurang dari 20 %, atau kurang lebih 80 % guru-guru di
Indonesia belum memiliki kualifikasi sebagai guru yang profesional (Arifin,
2007). Hal ini tentu sangat menyulitkan proses pelaksanaan perencanaan
pendidikan yang integratif; (2) perencanaan
pendidikan terpadu menuntut kualitas pengelolaan manajemen kelembagaan secara
transparan, akuntabel, demokratik dan visioner. Dalam realitasnya masih banyak
dijumpai pola pengelolaan manajemen di setiap satuan pendidikan yang tidak
selaras dengan prinsip-prinsip Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
(MPMBS); dan (3) perencanaan pendidikan terpadu menuntut kualitas peran serta
masyarakat (PSM), dalam meningkatkan layanan pendidikan di setiap satuan
pendidikan, khususnya dalam melaksanakan empat peran penting, yaitu sebagai:
(a) pemberi pertimbangan (advisory); (b) pendukung (supporting);
(c) pengontrol (controlling); dan (d) mediator (Depdiknas, 2006). Dalam
realitasnya keempat peran tersebut belum terlaksana dengan baik di setiap
lembaga atau satuan pendidikan.
Jadi, uraian
tentang kelemahan pendekatan integratif atau terpadu atau sistemik sejatinya
tidak menyangkut ranah konseptual, tetapi lebih bersentuhan pada tataran unsur
pendudukung dalam pelaksanaan program (aplikasinya). Oleh karena itu secara
konseptual pendekatan perencanaan integrasi merupakan pendekatan yang paling
baik apabila dibandingkan dengan pendekatan yang lain yang lebih bersifat
parsial (sektoral). Hal yang paling kunci untuk mendukung pelaksanaan program
pendidikan pada perencanaan pendidikan integratif adalah: (a) terus mendorong
pengembangan kualitas SDM warga sekolah; (b) terus meningkatkan kualitas
manajemen satuan pendidikan berdasarkan prinsip-prinsip MPMBS; dan (c) terus
meningkatkan kualitas peran serta masyarakat (PSM) untuk mencapai tujuan
pendidikan.
B.
Metode Dalam Perencanaan Pendidikan
Ada
banyak metode yang digunakan dalam perencanaan, akan tetapi yang biasa dipakai
dalam perencanaan pendidikan adalah yang ditemukan oleh Augus W Smith (1982) menyebutkan
ada 8 metode perencanaan pendidikan antara lain[5]:
1.
Metode mean-ways-end
analysis (analisis mengenai
alat-cara-tujuan)
Metode ini digunakan untuk meneliti sumber-sumber dan alternatif untuk
mencapai tujuan tertentu. Tiga hal yang perlu dianalysis dalam metode ini,
yaitu: means yang berkaitan dengan sumber-sumber yang diperlukan, ways
yang berhubungan dengan cara dan alternatif tindakan yang
dirumuskan dan bakal dipilih dan ends yang berhubungan dengan tujuan
yang hendak dicapai. Ketiga aspek tersebut ditelaah dan dikaji secara timbal
balik.
2.
Metode input-output
analysis (analisis masukan dan
keluaran)
Metode ini dilakukan dengan mengadakan pengkajian terhadap interelasi dan interdependensi berbagai
komponen masukan dan keluaran dari suatu system. Metode ini dapat digunakan
untuk menilai alternative dalam proses transformasi.
3.
Metode econometric
analysis (analisa ekonometrik)
Metode ini menggunakan data empirik, teori ekonomi dan statistika dalam
mengukur perubahan dalam kaitan dengan ekonomi. Metode ekonometrik
mengembangkan persamaan-persamaan yang menggambarkan hubungan ketergantungan di
antara variable-variabel yang ada dalam suatu system.
4.
Metode Cause-effect
diagram (diagram sebab akibat)
Metode ini digunakan dalam perencanaan dengan menggunakan sikuen hipotetik
untuk memperoleh gambaran tentang masa depan. Metode ini sangat cocok untuk
perencanaan yang bersifat strategic.
5.
Metode Delphi
Menurut Nanang Fattah metode Delphi bertujuan untuk menentukan sejumlah
alternative program. Mengeksplorasi asumsi-asumsi atau fakta yang melandasi
“Judgments” tertentu dengan mencari informasi yang dibutuhkan untuk mencapai
suatu consensus. Biasa metode ini dimulai dengan melontarkan suatu masalah yang
bersifat umum untuk diidentifikasi menjadi masalah yang lebih spesifik.
Partisipan dalam metode ini biasanya orang yang dianggap ahli dalam disiplin ilmu
tertentu.
Sedangkan menurut Sudjana, metode Delphi digunakan
untuk menghimpun keputusan-keputusan tertulis yang diajukan oleh calon peserta
didik atau para pakar yang tempat tinggalnya tersebar dan mereka tidak dapat
berkumpul atau bertemu muka dalam menentukan keputusan inti. Metode ini pada dasarnya merupakan proses kegiatan kelompok dengan
menggunakan jawaban-jawaban tertulis dari para calon peserta didik atau para
pakar terhadap rancangan keputusan yang diajukan secara tertulis kepada mereka.
Kegiatan ini bertujuan untuk melibatkan calon peserta didik atau pakar dalam
membuat keputusan, sehingga keputusan itu lebih berbobot dan menjadi milik
bersama.
6.
Metode heuristic (prosedur penelitian ilmiah)
Metode ini dirancang untuk mengeksplorasi isu-isu dan untuk mengakomodasi
pandangan-pandangan yang bertentangan atau ketidakpastian. Metode ini
didasarkan atas seperangkat prinsip dan prosedur yang mensistematiskan
langkah-langkah dalam usaha pemecahan masalah.
7.
Metode life-cycle
analysis (analisa siklus
kehidupan)
Metode ini digunakan terutama untuk mengalokasikan sumber-sumber dengan
memperhatikan siklus kehidupan menghenai produksi, proyek, program atau
aktivitas. Dalam kaitan ini seringkali digunakan bahan-bahan komperatif dengan
menganalogkan data, langkah-langkah yang ditempuh dalam metode ini adalah:
a.
Fase Konseptualisasi;
b.
Fase Spesifikasi;
c.
Fase Pengembangan
Prototype;
d.
Fase Pengujian dan
Evaluasi;
e.
Fase Operasi;
f.
Fase Produksi.
Metode ini bisa dipergunakan dalam bidang pendidikan terutama dalam
mengalokasikan sumber-sumber pendidikan dengan melihat
kecenderungan-kecenderungan dari berbagai aspek yang dapat dipertimbangkan
untuk merumuskan rencana dan program.
8.
Metode value added
anĂ¡lisis (analisa nilai tambah)
Metode ini digunakan untuk mengukur keberhasilan peningkatan produksi atau
pelayanan. Dengan demikian, kita dapat mendapatkan gambaran singkat tentang
kontribusi dari aspek tertentu terhadap aspek lainnya.
C.
Teknik-teknik dalam Perencanaan Pendidikan
Dalam pembuatan perencanaan diawali dengan teknik perencanaan. Teknik
perencanaan dapat berjalan dengan baik apabila unsur-unsur pendukung
terbentuknya dapat berjalan dengan lancar. Unsur-unsur tersebut antara lain:
1.
Sebelum
melakukan suatu perencanaan harus mengetahui keadaan sekarang dan apa yang
ingin direncanakan.
2.
Merencanakan
sesuatu dengan target agar tujuan tercapai atau adanya perubahan.
Teknik-teknik
dalam perencanaan pendidikan bertujuan membantu perencanaan dalam mengambil
keputusan. Teknik yang dipilih dalam uraian ini adalah teknik yang dapat
digunakan oleh para perencana pada semua tingkat perencanaan. Teknik-teknik
tersebut antara lain yaitu[6]:
1.
Diagram Balok (Bar Chart)
Diagram Balok (Bar
Chart) sering disebut diagram Gannt (Gannt Chart), karena diagram
ini memberikan gambaran tentang (1) kegiatan terperinci dari suatu proyek, (2)
waktu memulai sikap kegiatan dan (3) lamanya kegiatan tersebut. Dalam diagram
balok ini terdapat dua macam sumbu yaitu absis dan ordinat atau dua dimensi,
yaitu vertikal dan horizontal. Dimensi vertikal menunjukkan tugas atau
perincian tugas yang harus dikerjakan, sedangkan dimensi horizontal menunjukkan
waktu, mulai dari yang ditentukan.
Dalam suatu
proyek biasanya kita jumpai beberapa kegiatan yang dapat dilakukan bersamaan
waktunya dan kegiatan yang harus dilakukan secara berurutan. Yang terakhir ini
mengandung arti bahwa suatu kegiatan tidak dapat dilakukan kegiatan lain
diselesaikan. Itulah sebabnya suatu diagram Gannt, garis atau balok dapat
diletakkan secara tumpang tindih atau serial.
Contoh Diagram
Balok
Waktu
|
April
|
Mei
|
Juni
|
Juli
|
Agustus
|
Dst.
|
Kegiatan
|
||||||
Keg. A
Keg. B
Keg. C
Keg. D
Keg. E
Dst.
|
Beberapa hal
yang dipandang sebagai kelemahan dari diagram ini antara lain[7]:
1.
Hubungan antara
satu kegiatan dengan kegiatan lainnya tidak tergambarkan atau hubungan kebergantungan
tidak ditunjukkan.
2.
Tidak dapat
diidentifikasi, kegiatan mana yang merupakan kegiatan kritis. Kegiatan kritis
yaitu kegiatan yang tidak boleh tertunda, apabila tertunda mengakibatkan
gangguan terhadap penyelesaian keseluruhan proyek.
3.
Oleh karena
itu, proyek yang besar yangg memerlukan kontrol waktu secara ketat, koordinasi
dan analisis biaya yang cermat, tidak menguntungkan apabila menggunakan teknik
ini. Meskipun demikian sampai saat ini diagram balok masih banyak dipergunakan
terutama untuk kegiatan-kegiatan yang tidak kompleks.
2.
Diagram Milstone
Diagram Milstone disebut juga diagram struktur perincian kerja. Diagram
ini menggambarkan unsur-unsur fungsional suatu proyek dengan keterkaitannya
secara fungsional. Struktur ini dibuat berdasarkan pemecahan struktur proyek
yang disusun secara hierarkis. Apabila proyek secara keseluruhan dianggap
sebagai sistem, maka proyek itu dipecah-dipecah menjadi bagian-bagian sistem
(subsistem).[8]
Untuk lebih jelas dibawah ini digambarkan contoh struktur perincian kerja,
tentang penulisan modul leter.
3.
PERT dan CPM (Network Planning)
PERT,
(program evaluation and review technique) yaitu teknik penilaian dan
peninjauan program. CPM, (Critical Path Metode), yaitu metoda jalur
kritis. Menurut Richard (1980) PERT diartikan sebagai teknik manajemen dalam
merencanakan dan mengendalikan proyek-proyek yang bersifat non-repetitive (tak
berulang). Di
samping itu PERT sebagai teknik manajemen bertujuan untuk sebanyak mungkin
mengurangi adanya penundaan, gangguan, mengkoordinasikan mengsinkronisasikan
berbagai bagian sebagai suatu keseluruhan. Sedangkan menurut Jerry G. Galack
bagian sebagai suatu keseluruhan. Sedangkan menurut Jerry G. Galack (1968) PERT
membantu manajer dalam memecahkan masalah yang bersifat realistis dan menjadi
alat yang sangat penting dalam membuat keputusan.
Keguanaan
PERT ini terletak pada tingkat ketelitian analisis dari suatu kegiatan, urutan
serta hubungan logisnya. Dalam hal ini merupakan alat yang penting pada fase pra-perencanaan
suatu proyek. PERT dapat digunakan hampir dalam segala kegiatan, mulai dari
memformulasikan rencana sampai kepada evaluasi dari implementasi suatu rencana.
Sedangkan CPM merupakan suatu teknik perencanaan yang dipergunakan dalam proyek
yang mempunyai data biaya. Perbedaan pokok antara PERT dan CPM terletak pada
penentuan perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap kegiatan.
Dalam CPM ditentukan dua buah perkiraan waktu dan biaya untuk setiap aktivitas.
Kedua perkiraan itu adalah perkiraan normal (normal estimate) dan
perkiraan cepat (chas estimate). Perkiraan waktu normal kira-kira sama
dengan perkiraan waktu yang paling mungkin dalam PERT. Dan biaya normal adalah
biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek dalam waktu normal. Sedangkan
perkiraan waktu cepat dibutuhkan jika biaya diasumsikan tidak menjadi masalah
untuk mempersingkat waktu bagi proyek tersebut. Biaya mempercepat merupakan
biaya yang diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang dipercepat waktu
penyelesaiannya. Dalam hal ini kegiatannya merupakan kegiatan yang kritis atau
alur kritis (critical path). Dalam kaitan ini manajer melaksanakan
prinsip manajemen berdasarkan pengecualian (management by exception).
Kegiatan alur kritis ini merupakan kegiatan yang paling banyak mendapatkan
perhatian.
PERT
dan CPM sering disebut network karena melukiskan hubungan kebergantungan
dan pengaturan kegiatan yang logis sekuensial yang membentuk jaringan kerja dari
suatu proyek. Hubungan kebergantungan kegiatan-kegiatan dilukiskan dengan
menggunakan simbol-simbol dari kegiatan (activity) dan kejadian (event).
Pada taraf ini faktor waktu dan sumber belum dipertimbangkan, baru pada
kegiatan dan kejadian hubungan satu sama lain. Pada fase ini perlu
diidentifikasikan sebelum yang lain dimulai, apa yang menjadi hambatan terhadap
apa.
Diagram
PERT/CPM merupakan sebuah pernyataan secara grafis dari kegiatan-kegiatan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan. Untuk membentuk diagram digunakan
simbol-simbol kegiatan dan kejadian sebagai berikut[9]:
Artinya peristiwa/kejadian yang menyatakan permulaan atau akhir dari suatu
kegiatan tidak memerlukan waktu atau sumber.
|
|||
Artinya kegiatan (aktivitas) yaitu komponen
proyek yang memerukan waktu dan sumber (tanaga, perlengkapan, material
biaya).
|
|||
Artinya kegiatan semu yang menghubungkan dua
peristiwa menunjukan bahwa peristiwa yang terdahulu merupakan hambatan dari
peristiwa yang mengikutinya. Dummy tidak mempunyai waktu (deration) dan tidak
menggunakan sumber.
|
|||
|
Artinya, kegiatan yang menghubungkan peristiwa
1 dan 2.
|
||
|
Banyak kegiatan yang mulai dari satu peristiwa.
|
||
|
Banyak kegiatan yang menghasilkan satu
peristiwa.
|
Apabila beberapa kejadian dan kegiatan
digabungkan, dan hasilnya digambarkan dalam sebuah diagram, maka akan terbentuk
jaringan. Jaringan dalam satu kejadian menjadi kejadian akhir bagi suatu
kejadian dan sekaligus menjadi permulaan bagi kegiatan yang lainnya.
Penutup
A.
Kesimpulan
Dalam
dunia pendidikan, perencanaan merupakan hal yang sangat penting untuk
mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, dalam perencanaan
pendidikan terdapat pendekatan, metode dan teknik. Adapun pendekatan yang
digunakan dalam perencanaan pendidikan yaitu: 1). Pendekatan Kebutuhan Sosial (social
demand approach), 2). Pendekatan Ketenagakerjaan
(manpower approach), 3). Pendekatan
Keefektifan Biaya (cost effectiveness approach), 4). Pendekatan Integratif.
Dari keempat pendekatan tersebut kelemahan dan kelebihan masing-masing.
Metode yang digunakan
dalam perencanaan pendidikan yaitu: 1). Metode mean-ways-end
analysis (analisis mengenai alat-cara-tujuan), 2). Metode input-output
analysis (analisis masukan dan keluaran), 3). Metode econometric
analysis (analisa ekonometrik), 4). Metode Cause-effect
diagram (diagram sebab akibat), 5). Metode Delphi, 6).
Metode heuristic (prosedur penelitian
ilmiah),
7). Metode life-cycle analysis (analisa siklus
kehidupan),
8). Metode value added anĂ¡lisis (analisa nilai tambah). Dalam perencanaan pendidikan terdapat
teknik-teknik diantaranya: 1). Diagram Balok (Bar Chart), 2). Diagram
Milstone, 3). PERT dan CPM (Network Planning).
B.
Saran
Ketika membuat
perencanaan pendidikan perlu memperhatikan kemampuan yang ada pada lembaga atau
institusi pendidikan yang bersangkutan agar tujuan yang dicapai mudah diraih. Bagi
pembaca yang ingin membuat tema yang sama diharapkan memberikan contoh-contoh
pendekatan, metode, dan teknik-teknik perencanaan pendidikan sesuai dengan
keadaan yang dialami, agar lebih mudah dipahami.
DAFTAR PUSTAKA
Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2013.
Makmun, Udin Syaifuddin Sa’ud dan Abin Syamsuddin, Perencanaan
Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2011.
Sumber lain silahkan klik link ini: http://stitmaa.ac.id/lihat_artikel.php?id=129
[1]Alumni Angkatan Ke-XIII STIT Muslim Asia
Afrika, mahasiswa Program Pasca Sarjana Program Studi Manajemen Pendidikan
Islam STAI Al Hikmah Jakarta
[2]Alumni IPRIJA, mahasiswa Program Pasca Sarjana
Program Studi Manajemen Pendidikan Islam STAI Al Hikmah Jakarta
[3] Udin Syaifuddin Sa’ud dan Abin Syamsuddin Makmun, Perencanaan
Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2011), Cet Ke-5, h. 240.
[4] Ibid., h. 245.
[5] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2013), Cet Ke-12, h.52.
[6] Ibid., h. 61
[7] Ibid., h.62
[8] Ibid., h.63
[9] Ibid., h.64.
Komentar
Posting Komentar