Manajemen Mutu
MANAJEMEN MUTU
Oleh:
Oleh:
Singgih Aji Purnomo, S.Pd.I[1]
PENDAHULUAN
Dalam artikel ini akan
dipaparkan mengenai manajemen mutu, bagaimana mengelola kualitas (mutu)
khususnya di dunia Pendidikan. Karena secara sederhana manajemen mutu dapat
diartikan akativitas manajemen untuk mengelola mutu.
Pendidikan merupakan bagian
penting dari proses pembangunan nasional yang memiliki peran yang sangat besar
dalam menentukan masa depan suatu bangsa. Selain itu, pendidikan merupakan
investasi dalam pengembangan sumber daya manusia, di mana peningkatan kecakapan
dan kemampuan diyakini sebagai faktor penting pendukung sumber daya manusia dalam
mengarungi kehidupan dengan berbagai problematika. Kemajuan di bidang pendidikan
akan berpengaruh terhadap pola pikir dan sikap dari sumber daya manusia yang
dihasilkannya untuk bisa bertahan dan eksis sehingga selaras dengan kemajuan
zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Semakin tingginya kehidupan
sosial masyarakat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
telah menyebabkan tuntutan kebutuhan kehidupan sosial masyarakat turut
meningkat. Pada akhirnya, tuntutan tersebut bermuara pada pendidikan karena
masyarakat meyakini bahwa pendidikan mampu menjawab dan mengantisipasi berbagai
tantangan tersebut. Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan
oleh sekolah sebagai institusi tempat masyarakat berharap tentang kehidupan
yang lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan perlu perubahan yang dapat
dilakukan melalui perubahan dan peningkatan dalam pengelolaan manajemen pendidikan
di sekolah.[2]
Sumbangan pendidikan terhadap
pembangunan bangsa tentu bukan hanya sekedar penyelenggaraan pendidikan, tetapi
pendidikan yang bermutu, baik dari sisi input,
proses, output, maupun outcome. Input pendidikan yang bermutu
adalah guru-guru yang bermutu, peserta didik yang bermutu, kurikulum yang
bermutu, fasilitas yang bermutu, dan berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan
yang bermutu. Proses pendidikan yang bermutu adalah proses pembelajaran yang
bermutu. Output pendidikan yang
bermutu adalah lulusan yang memiliki kompetensi yang disyaratkan. Adapun outcome pendidikan bermutu adalah
lulusan yang mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi atau terserap
pada dunia usaha atau industri.[3]
Mutu pendidikan bersifat menyeluruh,
menyangkut semua komponen, pelaksana dan kegiatan pendidikan, atau disebut
sebagai mutu total atau “Total Quality”. Adalah sesuatu yang tidak mungkin,
hasil pendidikan yang bermutu dapat dicapai dengan satu komponen atau kegiatan
yang bermutu. Kegiatan pendidikan cukup kompleks, satu kegiatan, komponen,
pelaku, waktu, terkait dan membutuhkan dukungan dari kegiatan, komponen,
pelaku, serta waktu lainnya.[4]
oleh karena itu dalam artikel ini akan membahas judul mengenai Manajemen Mutu.
PEMBAHASAN
A.
Konsep Manajemen Mutu
Konsep
manajemen mutu berasal dari 2 (dua) kata yaitu manajemen dan mutu. Kata manajemen berasal dari bahasa
Inggris, yaitu management yang
berasal dari kata to manage, sinonim to hand artinya mengurusi, to control
(memeriksa), to guide berarti
memimpin. Selanjutnya pengertian manajemen
berkembang secara lebih lengkap. Menurut Oey liang lee dalam Tri Setiadi, “manajemen merupakan seni dalam
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengoordinasian, dan pengontrolan
atas human and natural resources untuk mencapai tujuan yang
telah ditentukan lebih dahulu.”[5]
Nampaknya itulah yang menyebabkan manajemen sering
diartikan sebagai ilmu, kiat, dan profesi. Hal ini juga dipaparkan oleh Nanang
Fattah dalam bukunya Landasan Manajemen Pendidikan:
Dikatakan sebagai ilmu oleh Luther Gulick karena manajemen dipandang
sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami
mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Dikatakan sebagai kiat oleh Follet
kerena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain
menjalankan dalam tugas. Dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi
oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para
profesional dituntun oleh suatu kode etik.[6]
Horold Kontz dan Cril O’Donnel mengatakan manajemen
adalah usaha mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain, yaitu
manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas dengan orang lain yang
meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, penggerakan, dan
pengendalian. Ralp Currier Davis, bahwa manajemen juga dipandang sebagai sebagi
fungsi dari pemimpin eksekutif, bahwa seluruh kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang melalui pengendalian pemimpin dalam rangka mencapai tujuan yang
ditetapkan.[7]
Sementara itu Sayyid Mahmud al-Hawariy dalam bukunya
“al-Idaroh al-Ushul wal Ushushil Ilmiyah” mengartikan manajemen sebagai suatu
sikap seseorang maupun sekelompok orang untuk mengetahui ke mana arah yang
dituju, kesukaran apa yang harus dihindari, kekuatan apa yang harus dijalankan,
dan bagaimana mengemudikan kapal serta anggotanya dengan sebaik-baiknya tanpa
adanya pemborosan waktu dalam proses mengerjakannya.[8]
Sedangkan menurut Oemar Hamalik manejemen adalah suatu proses sosial yang
berkenaan dengan keseluruhan usaha manusia dengan bantuan manusia serta
sumber-sumber lainnya menggunakan metode yang efisien dan efektif untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan.[9]
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat dikatakan
bahwa manajemen
merupakan kegiatan mengelola suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dengan memperhatikan prinsip-prinsip tertentu. Biasanya
prinsip-prinsip tersebut akan mewujudkan suatu metode yang digunakan untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu.
Sedangkan
quality (mutu) dalam kamus bahasa Indonesia adalah ukuran baik buruk
suatu benda; kadar; taraf atau derajat.[10]
Quality yang diterjemahkan dengan kualitas atau mutu dalam konteks
manajemen telah menjadi semacam prinsip. Tom Peters dan Nancy Austin
mengungkapkan bahwa mutu adalah sebuah hal yang berhubungan dengan gairah dan
harga diri. Sementara itu Edward Sallis mengungkapkan bahwa mutu terkait dengan
suatu hal yang berbeda, suatu hal yang membedakan antara yang baik dan yang
sebaliknya. Lebih lanjut Sallis mengungkapkan bahwa mutu merupakan suatu
prinsip yang dapat membantu suatu institusi untuk merencanakan
perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang
berlebihan.[11]
Berbeda
dengan pendapat di atas, Vincent Gaspersz membagi pengertian mutu menjadi dua
hal. Pertama, mutu dalam definisi
konvensional. Dalam definisi konvensional ini mutu diartikan sebagai gambaran
karakteristik langsung dari suatu produk, seperti perfomansi (performance), keandalan (reliability), mudah dalam penggunaan (easy to use), estetika (esthetics),
dan sebagainya. Kedua, mutu dalam
definisi strategik. Dalam definisi
strategik, mutu diartikan sebagai segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan,
kebutuhan, dan kepuasan pelanggan (meeting the needs of
customers).[12]
Apabila
“kualitas” adalah titik terakhir, maka manajemen mutu adalah pendekatan dan
proses untuk menuju kesana (titik terakhir).[13]
Menurut Uhar Suharsaputra “secara sederhana manajemen mutu dapat diartikan sebagai
aktivitas manajemen untuk mengelola mutu”.[14]
Menurut Gasperz dalam Romindo, manajemen kualitas dapat dikatakan sebagai
aktifitas dari fungsi manajemen secara keseluruhan yang menentukan kebijakan
kualitas, tujuan, tanggung jawab, serta pengimplementasiannya melalui alat-alat
manajemen kualitas seperti perencanaan kualitas, pengendalian kualitas,
penjaminan kualitas, dan peningkatan kualitas.[15]
Menurut
Sudarwan Danim bahwa mutu adalah derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik
berupa barang maupun jasa.[16] Dalam kaitannya dengan pendidikan, menurut
Mujamil Qomar, pengertian mutu pendidikan adalah kemampuan lembaga pendidikan
dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan
belajar seoptimal mungkin. Mulyasa sebagimana diungkapkan oleh Mujamil Qomar
bahwa pengertian mutu mencakup input, proses
dan output pendidikan. Lembaga
pendidikan dikatakan bermutu jika input, proses, dan hasilnya dapat
memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna jasa pendidikan. Apabila performance-nya dapat melebihi persyaratan yang dituntut oleh stake holders (user), maka suatu lembaga pendidikan tersebut dikatakan sebagai
lembaga pendidikan yang unggul.[17]
Dari
beberapa pendapat diatas penulis berpendapat bahwa manajemen mutu berkaitan
dengan seluruh kegiatan manajemen guna mengelola kualitas (mutu). Dalam
perkembangannya dewasa ini manajemen kualitas telah banyak diterapkan dalam
seluruh aspek dari suatu organisasi, sehingga pengelolaan kualitas bersifat total
dan terpadu. Oleh kerena itu, TQM (Total Quality Management) telah
menjadi sistem manajemen yang berkaitan dengan upaya untuk terus meningkatkan
kualitas dalam berbagai tahap, bagian dan bidang-bidang dalam organisasi.[18]
Menurut Edward Sallis, “TQM adalah sebuah filosofi tentang perbaikan secara
terus menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap
institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan
pelanggannya, saat ini dan masa yang akan datang.”[19]
Menurut
Ishikawa dalam Uhar, “Total Quality Management” diartikan sebagai
perpaduan semua fungsi dari perusahan ke dalam falsafah holistik yang dibangun
berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan pengertian
serta kepuasan pelanggan.”[20]
Definisi lainnya menurut Santosa dalam Uhar menyatakan bahwa “TQM merupakan
sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan
berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota
organiasi.”[21] Berbeda dengan Fandi
Tjiptono dalam uhar, membagi TQM dalam 2 aspek (aspek pertama menguraikan apa
TQM dan aspek kedua membahas bagaimana mencapainya).[22]
Menurut
uhar dalam bukunya, “Total Quality Management merupakan usaha untuk
memaksimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas
produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya.”[23]
Setelah dipaparkan beberapa pengertian di atas maka penulis berpendapat bahwa
TQM merupakan aktivitas mengelola kualitas secara total dengan melibatkan seluruh
stakeholder dalam upaya mempertahankan kualitas agar tetap memiliki daya
saing bahkan mengarah kepada peningkatan kualitas, dalam dunia pendidikan
khususnya di sekolah saat ini TQM dapat diimplementasikan melalui Manajemen
Berbasis Sekolah.
B.
Trilogi Juran
Menurut
Juran dalam Uhar, berpendapat bahwa ada tiga tahapan (Trilogi) yang perlu
dilakukan dalam konteks manajemen mutu yaitu:
1.
Perencanaan mutu (quality planning), yang
merupakan tahapan perencanaan tentang mutu yang diinginkan dari suatu produk atau
pelayanan. Pada tahapan ini dilakukan fokus pada penyusunan kebijakan mutu,
tujuan mutu, dan proses operasional untuk mencapai tujuan mutu.
2.
Pengendalian mutu (quality control),
merupakan langkah untuk memastikan apakah terjadi pemenuhan persyaratan mutu
sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
3.
Perbaikan Mutu (quality improvement)
merupakan langkah untuk memperbaiki mutu yang telah dicapai sesuai dengan
prinsip perbaikan terus-menerus (continous improvement).[24]
Gambar
1. Trilogi Juran

C.
Prinsip Deming
Menurut Deming dalam Uhar, terdapat empat belas
poin atau prinsip penting yang dapat membantu atau membantu manajer mencapai
perbaikan dalam kualitas yaitu:
1.
Menciptakan kepastian tujuan perbaikan produk dan
jasa
2.
Mengadopsi filosofi baru di mana cacat tidak bisa
diterima.
3.
Berhenti tergantung pada inspeksi missal.
4.
Berhenti melaksanakan bisnis atas dasar harga
saja.
5.
Tetap dan kontinu perbaiki sistem produksi dan
jasa.
6.
Melembagakan metode pelatihan kerja modern.
7.
Melembagakan kepemimpinan.
8.
Melembagakan rintangan antar departemen.
9.
Hilangkan ketakutan.
10.
Hilangkan atau kurangi tujuan-tujuan jumlah pada
pekerja.
11.
Hilangkan manajemen berdasarkan sasaran.
12.
Hilangkan rintangan yang merendahkan pekerja
jam-jaman.
13.
Melembagakan program pendidikan dan pelatihan
yang cermat.
14.
Menciptakan struktur dalam menejemen puncak yang
dapat melaksanakan transformasi.[25]
Menurut Uhar Suharsaputra, dengan melihat dua
pemikir mutu di atas, pada intinya dapat dipahami bahwa semua yang berkaitan
dengan manajemen kualitas atau perbaikan kualitas yang diperlukan adalah
penerapan pengetahuan dalam upaya meningkatkan atau mengembangkan kualitas
produk atau jasa secara berkesinambungan.[26]
D.
Prinsip Manajemen Mutu
Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan
oleh organisasi dalam mengimplementasikan manajemen mutu, sehingga dapat
dicapai suatu kondisi di mana produk atau jasa yang diberikan oleh suatu
organisasi dapat dikatakan bermutu. Menurut Uhar Suharsaputra dalam bukunya
Administrasi Pendidikan Edisi Revisi ada delapan prinsip manajemen mutu
diantaranya yaitu:
1.
Fokus Pada Pelanggan. Kelangsungan hidup organisasi sangat ditentukan
oleh pelanggan, oleh karena itu organiasi harus memahami kebutuhan saat ini dan
yang akan datang dari pelanggan, dan selalu berusaha untuk dapat melampaui
harapan pelanggan.
2.
Kepemimpinan.
Pemimpin harus menetapkan kesatuan tujuan dan arah organisasi. Pemimpin
hendaknya menciptakan dan memelihara lingkungan internal agar orang dapat
melibatkan dirinya secara penuh dalam pencapaian dirinya secara penuh dalam
pencapaian tujuan organiasi.
3.
Perbaikan terus-menerus. Proses perbaikan dilakukan secara terus-menerus
dengan cara melakukan melakukan deteksi dini terhadap semua proses untuk
mencegah terjadinya penyimpangan.
4.
Keterlibatan personel. Semua personel harus memiliki konstribusi dan
tanggung jawab terhadap mutu produk dan kepuasan pelanggan, untuk itu
diperlukan upaya untuk menjadikan personel memiliki kompetensi dan pemahaman
yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya secara benar.
5.
Pendekatan proses. Proses merupakan aktivitas yang saling
berhubungan. Pengendalian proses sama dengan pengendalian mutu. Efisiensi akan
diperoleh dengan mengendalikan semua sumber daya yang digunakan dalam proses.
6.
Pendekatan sistem. Pendekatan sistem merupakan kumpulan dari
pendekatan proses. Pendekatan dilakukan dengan cara mengidentifikasi, memahami
dan mengelola proses-proses yang saling terkait secara efektif dan efisien.
7.
Pengambilan keputusan berdasarkan fakta. Semua keputusan, kegiatan dan fungsi dalam manajemen
mutu dilakukan atas dasar fakta dan data. Fakta dan data yang digunakan harus
dapat dipertanggungjawabkan sehingga keputusan yang diambil dapat mencapai
tingkat akurasi yang tinggi.
8.
Hubungan saling menguntungkan dengan pemasok. Melakukan pembinaan secara terus-menerus, agar
pemasok memahami perannya sebagai bagian integral dari sebuah mekanisme bisnis yang
bisnis menguntungkan.[27]
E.
Asal Mula Implementasi Total Quality Management
TQM memang pada mulanya berasal dan
diimplementasikan di bidang industri, seperti di pabrik-pabrik maupun
perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang-barang. Kemajuan yang dicapai
oleh perusahaan-perusahaan dalam memproduksi barang dengan mengimplementasikan
TQM membuat bidang lainnya tertarik untuk menerapkan TQM, salah satunya adalah
perusahaan-perusahaan maupun berbagai instansi penyelenggara layanan jasa,
mulai dari rumah sakit, hotel dan restoran, perbankan, hingga sekolah.
Lebih lanjut Jerome S. Arcaro
mengungkapkan bahwa jika TQM diimplementasikan secara tepat, ia dapat menjadi
metode yang dapat membantu para profesional pendidikan menjawab tantangan
lingkungan masa kini. TQM dapat diimplementasikan untuk mengurangi rasa takut
dan meningkatkan kepercayaan terhadap penyelenggaraan pendidikan di lingkungan
sekolah. Selain sebagai metode, menurutnya TQM juga dapat diimplementasikan sebagai media untuk
membangun aliansi antara pendidikan, bisnis, dan pemerintahan. Aliansi
pendidikan memastikan bahwa para profesional sekolah atau wilayah memberikan
sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan program-program pendidikan. TQM
dapat memberikan fokus pada pendidikan dan masyarakat. TQM membentuk
infrastruktur yang fleksibel yang mampu memberikan respon yang cepat terhadap
perubahan tuntutan masyarakat. TQM juga dapat membantu sekolah menyesuaikan
diri dengan keterbatasan dana dan waktu serta memudahkan sekolah dalam mengelola
perubahan.[28]
F.
Tujuan Total Quality Management di Sekolah
Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan
dapat dikategorikan sebagai lembaga industri mulia (noble industry) karena mengemban misi ganda, yaitu profit sekaligus
sosial. Misi profit yaitu untuk mencapai keuntungan, ini dapat dicapai ketika
efisiensi dan efektivitas dana bisa tercapai sehingga pemasukan (income) lebih besar dari pada biaya
operasional. Sedang misi sosial bertujuan untuk mewariskan dan
menginternalisasikan nilai-nilai luhur. Misi kedua sekolah tersebut dapat
dicapai secara maksimal jika sekolah memiliki modal human-capital dan social-capital
yang memadai dan juga memiliki tingkat keefektifan serta efisiensi yang tinggi dalam bekerja.
Itulah sebabnya me-manage sekolah
dengan mengimplementasikan TQM dipandang sebagai suatu pilihan yang tepat.
Pada hakekatnya tujuan dari implementasi TQM di
sekolah adalah untuk mencapai sebuah kultur perbaikan terus-menerus yang
digerakkan oleh semua pihak di suatu sekolah dalam rangka memuaskan
pelanggannya. Kemudian Edward Sallis mengungkapkan bahwa tujuan dari
diimplementasikannya TQM di sekolah adalah untuk merubah pihak-pihak yang
mengoperasikan sekolah menjadi sebuah tim yang ikhlas, tanpa konflik dan
kompetisi internal untuk meraih suatu tujuan tunggal, yaitu memuaskan pelanggan.[29]
G.
Total Quality Management Dalam Konsep Pendidikan
Islam
Agama Islam memiliki ajaran yang universal dan konprehensif mencakup
seluruh aspek kehidupan manusia yang berfungsi memberikan jalan dan petunjuk
bagi mereka untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Sejarah telah
mencatatkan bahwa banyak sekali konsep-konsep yang bermunculan di alam ini yang
lahir dari tokoh-tokoh muslim yang senantiasa bermujahadah berdasarkan landasan
filosofis yang terdapat dalam sumber pokok Islam yaitu: al-Qur’an dan sunnah
pada zaman keemasan Islam.
Mengenai manajemen mutu terpadu, seperti konsep Edward Sallis yang
mengatakan bahwa manajemen mutu terpadu adalah sebuah filosofi tentang
perbaikan secara terus-menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis
kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan
harapan para pelanggannya, saat ini dan untuk masa yang akan datang.[30] Dalam
pendidikan Islam terdapat ajaran yang dapat dijadikan landasan untuk muncul
konsep manajemen mutu terpadu tersebut, seperti firman Allah dalam Surat
Al-Baqarah ayat 208, berbunyi:
$ygr'¯»t úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷$# Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$2 wur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø¤±9$# 4
¼çm¯RÎ) öNà6s9 Arßtã ×ûüÎ7B ÇËÉÑÈ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam
keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Qs. Al-Baqarah: 208).[31]
Dalam ayat tersebut terdapat dua konsep yang berkaitan dengan manajemen
mutu terpadu, pertama lafadz “ا
لسلم” dan lafidz “كا فة”. Kata “Silm”, selama ini
kita artikan “Islam” dalam konteks agama, namun sebenarnya dapat diartikan
lebih luas lagi meliputi “kesejahteraan, keselamatan, kemakmuran, kualitas” dan
seterusnya mengarah kepada sebuah kebaikan tingkat tinggi. Dan kata “kaffah”,
sudah jelas memiliki arti total dan totalitas. Terjemahan yang
lebih luas dari ayat tersebut “berbuatlah dan bertindaklah kamu untuk meraih
kebaikan dan kesejahteraan secara menyeluruh.”
Konsep tersebut diperkuat dengan filsafat hidup Rassulullah yaitu “Tiada
hari tanpa peningkatan kualitas hidup.”[32]
Berdasarkan itu, maka jelas bahwa firman Allah SWT dan filsafat hidup
Rasulullah tersebut menganjurkan dan mengarahkan pendidikan Islam untuk berbuat
secara total dalam rangka mencapai kebaikan dan kualitas terbaik sebagai seorang
hamba Allah dan sebagai Khalifah di dunia ini. Dan ini berkaitan dengan konsep
manajemen mutu terpadu serta prinsip-prinsip yang ada di dalamnya, terutama
masalah kualitas dan totalitas. Adapun indikator atau kriteria yang dapat dijadikan
tolak ukur mutu pendidikan Islam yaitu hasil pendidikan, hasil langsung
pendidikan (hasil langsung inilah yang dipakai sebagai titik tolak pengukuran
mutu pendidikan suatu lembaga pendidikan, misal: tes tulis, skala rating,
dan skala sikap), proses pendidikan, instrumen input (alat interaksi dengan
siswa), serta siswa dan lingkungan.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsep manajemen mutu pada dasarnya berkaitan
dengan seluruh kegiatan manajemen guna mengelola kualitas (mutu). Trilogi Juran
mencakup Perencanaan Mutu (Quality Planning), Pengendalian Mutu (Quality
Control), dan Perbaikan Mutu (Quality Improvement). Prinsip Deming,
(1). Menciptakan kepastian tujuan perbaikan produk dan jasa, (2). Mengadopsi
filosofi baru di mana cacat tidak bisa diterima, (3) Berhenti tergantung pada
inspeksi missal, (4). Berhenti melaksanakan bisnis atas dasar harga saja, (5). Tetap
dan kontinu perbaiki sistem produksi dan jasa, (6). Melembagakan metode
pelatihan kerja modern. (7). Melembagakan kepemimpinan. (8). Melembagakan
rintangan antar departemen, (9). Hilangkan ketakutan. (10). Hilangkan atau
kurangi tujuan-tujuan jumlah pada pekerja, (11). Hilangkan manajemen
berdasarkan sasaran, (12). Hilangkan rintangan yang merendahkan pekerja
jam-jaman, (13). Melembagakan program pendidikan dan pelatihan yang cermat.
(14). Menciptakan struktur dalam menejemen puncak yang dapat melaksanakan
transformasi.
Prinsip Manajemen Mutu ada 8 diantaranya yaitu:
(1). Fokus Pada Pelanggan, (2). Kepemimpinan, (3) Perbaikan Terus-Menerus, (4).
Keterlibatan Personel, (5) Pendekatan Proses, (6) Pendekatan Sistem, (7). Pengambilan
Keputusan Berdasarkan Fakta, (8). Hubungan Saling Menguntungkan Dengan Pemasok.
Asal mula TQM
memang pada mulanya berasal dan diimplementasikan di bidang industri, seperti
di pabrik-pabrik maupun perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang-barang.
Kemajuan yang dicapai oleh perusahaan-perusahaan dalam memproduksi barang
dengan mengimplementasikan TQM membuat bidang lainnya tertarik untuk menerapkan
TQM, salah satunya adalah perusahaan-perusahaan maupun berbagai instansi
penyelenggara layanan jasa, mulai dari rumah sakit, hotel dan restoran,
perbankan, hingga sekolah.
Tujuan dari
implementasi TQM di sekolah adalah untuk mencapai sebuah kultur perbaikan
terus-menerus yang digerakkan oleh semua pihak di suatu sekolah dalam rangka
memuaskan pelanggannya. Dalam pendidikan Islam
terdapat ajaran yang dapat dijadikan landasan untuk muncul konsep manajemen
mutu terpadu tersebut, seperti firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 208 dan
diperkuat dengan filsafat hidup Rassulullah yaitu “Tiada hari tanpa
peningkatan kualitas hidup.”
B.
Saran
Ketika menginginkan sekolah yang bermutu, maka
seorang pemimpin perlu mengelola kualitas secara menyeluruh dengan melibatkan
seluruh stakeholder guna mencapai hal tersebut. Bagi pembaca yang ingin
membuat makalah mengenai manajemen mutu, sebaiknya menjelaskan filosofi
manajemen mutu, unsur-unsur dan karakteristik manajemen mutu, serta memberi
contoh manajemen mutu di sekolah sesuai tempat kerja masing-masing atau hasil
studi banding ke sekolah lain agar lebih baik dalam memahami manajemen mutu.
DAFTAR PUSTAKA
Arcaro, Jerome S., Pendidikan Berbasis Mutu : Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan, Terjemahan, Yosal
Iriantara, Yogyakarta : 2007.
Danim, Sudarwan, Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit
Birokrasi ke Lembaga Akademik,
Jakarta : PT Bumi Akasara, 2006.
Deni Koswara
dan Cepti Triatna, Manajemen Pendidikan: Manajemen Mutu Pendidikan, Bandung:
Alfabeta, 2011.
Departemen
Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Bandung: Diponegoro, 2000.
Fatah, Nanang,
Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012.
Gaspersz, Vincent, Total Quality Management, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Hamalik, Oemar,
Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.
Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua Tanah
Suci) Raja Fahd Ibn’ Abd al’ Aziz Al Sa’ud, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, Jakarta: Kementerian Agama RI, 1971.
Nana Syaodih
Sukmadinata, Ayi Novi Jami’at dan Ahmad, Pengendalian Mutu Pendidikan
Sekolah Menengah: Konsep, Prinsip dan Instrumen, Bandung: PT Refika
Aditama, 2008.
Pasaribu,
Romindo M., Manajemen Mutu Teori dan Kasus, Medan: Universitas HKBP
Nommensen, 2015.
Qomar, Mujamil,
Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan
Islam, Jakarta: Erlangga, 2007.
Sallis, Edward,
Total Quality Management In Education Manajemen Mutu Pendidikan, Jogjakarta:
IRCiSoD, 2012, Terjemah.
Setiadi, Tri,
Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan Al-Qur’an Di SD Al Irsyad Al Islamiyyah
Purwokerto, Purwokerto: IAIN Purwokerto, 2015, Tesis.
Suharsaputra, Uhar, Administrasi Pendidikan Edisi Revisi, Bandung: PT Refika
Aditama, 2013.
Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam :
Konsep, Strategi, dan Aplikasi, Yogyakarta : Teras, 2009.
Tim Penyusun Kamus
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus
Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: Balai
Pustaka, 1996.
[3] Deni Koswara dan Cepti Triatna, Manajemen Pendidikan: Manajemen
Mutu Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 288.
[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Ayi Novi Jami’at dan Ahmad, Pengendalian
Mutu Pendidikan Sekolah Menengah: Konsep, Prinsip dan Instrumen, (Bandung:
PT Refika Aditama, 2008), h. 7.
[5] Tri Setiadi, Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan Al-Qur’an Di SD Al
Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, (Purwokerto: IAIN Purwokerto, 2015),
Tesis, h. 27.
[6] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. 12, h. 1.
[7] Nur
Zazin, Gerakan Menata Mutu Pendidikan :
Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2011), h. 27-28.
[8] Sulistyorini,
Manajemen Pendidikan Islam : Konsep, Strategi, dan Aplikasi, (Yogyakarta
: Teras, 2009), h. 11.
[10]Tim Penyusun Kamus
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1996), h. 677.
[11] Edward Sallis, Total Quality Management In Education Manajemen Mutu
Pendidikan, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2012) Terjemah, h. 33.
[13] Romindo M. Pasaribu, Manajemen Mutu Teori dan Kasus, (Medan:
Universitas HKBP Nommensen, 2015), Cet. 1, h. 24.
[14] Uhar Suharsaputra, Administrasi Pendidikan Edisi Revisi,
(Bandung: PT Refika Aditama, 2013), h. 252.
[16] Sudarwan
Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari
Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik,
(Jakarta : PT Bumi Akasara, 2006), h. 53.
[17] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru
Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga, 2007), h. 207.
[19] Edward Sallis, Total Quality Management In Education Manajemen Mutu
Pendidikan, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2012) Terjemah, h. 73.
[26] Ibid.
[27] Uhar Suharsaputra, Op.Cit., h. 257-258.
[28] Jerome
S. Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu :
Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah
Penerapan, Terjemahan, Yosal Iriantara, (Yogyakarta : 2007), hlm. 10.
[29] Edward Sallis, Op.Cit., h. 69.
[30] Edward Sallis, Op.Cit., h. 73.
[31] Khadim al Haramain
asy Syarifain (Pelayan kedua Tanah Suci) Raja Fahd Ibn’ Abd al’ Aziz Al Sa’ud, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta:
Kementerian Agama RI, 1971), h. 50.
[32] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, (Bandung:
Diponegoro, 2000), ...
What's the Best Asian Pokies in the World? starvegad starvegad 우리카지노 우리카지노 1xbet 1xbet 우리카지노 우리카지노 ミスティーノ ミスティーノ 65 Top 10 Best Online Casino Malaysia for Malaysia Pokies
BalasHapusNew Blackjack from Playtech - JamBase
BalasHapus› new-blackjack 사천 출장샵 › new-blackjack Find the best Blackjack 의정부 출장안마 Casino 성남 출장마사지 Dealer Review for 상주 출장마사지 FREE! The dealer is also one of the best in the 보령 출장안마 world, so I've chosen the